Kenali Karyawan Pick Me (Pikmi) di Kantor, Sebelum Kamu Jadi Korbannya

Contoh Karyawan Pick Me (Pikmi) di Kantor

Pernah punya rekan kerja yang selalu sibuk cari perhatian atasan? Yang tiap rapat harus angkat tangan duluan, bukan karena punya ide bagus, tapi karena takut nggak kelihatan? Atau yang suka bilang, "Aku sih nggak masalah lembur terus, yang penting kerjaan beres" padahal sambil melirik ke arah bos? Kalau pernah, kemungkinan besar kamu sudah berhadapan dengan yang namanya karyawan pick me, atau biasa disebut juga pikmi di dunia kerja.

Apa Itu Karyawan Pick Me / Pikmi?

Istilah pick me aslinya populer di media sosial, merujuk pada seseorang yang selalu berusaha tampil berbeda dari kelompoknya demi mendapat pengakuan atau perhatian dari orang lain, terutama dari pihak yang dianggap "lebih tinggi" statusnya.

Di dunia kerja, karyawan pick me adalah orang yang secara sadar atau tidak sadar terus-menerus mencari validasi, pengakuan, dan perhatian khususnya dari atasan atau manajemen. Bukan karena hasil kerjanya yang memang outstanding, tapi lebih karena perilaku dan cara mereka menempatkan diri di hadapan orang lain.

Singkatnya: mereka ingin dipilih, ingin dianggap spesial, ingin jadi favorit.

Ciri-Ciri Karyawan Pick Me di Kantor

Mengenali karyawan pikmi nggak selalu mudah, karena sebagian perilakunya terlihat positif di permukaan. Tapi kalau kamu perhatikan lebih dalam, ada pola yang cukup khas.

1. Selalu ingin terlihat paling berdedikasi

Tipe ini rajin banget tapi rajinnya sering performatif. Mereka sengaja kirim email jam 11 malam bukan karena memang urgent, tapi supaya atasan tahu mereka masih kerja. Atau datang paling pagi dan pulang paling malam, lalu sibuk mengumumkannya ke semua orang.

2. Merendahkan rekan kerja secara halus

Ini yang agak berbahaya. Karyawan pick me sering membandingkan diri dengan rekan lain dengan cara yang terkesan humble tapi sebetulnya menjatuhkan. Contohnya: "Aku mah nggak bisa santai-santai kayak yang lain, kalau kerja ya harus all out." terdengar seperti pujian untuk diri sendiri, tapi sekaligus sindiran untuk orang lain.

3. Nggak bisa melihat orang lain dipuji

Setiap kali atasan atau tim memuji hasil kerja orang lain, karyawan pikmi akan mencari cara untuk mengalihkan perhatian ke dirinya sendiri. Entah dengan nyerobot pembicaraan, menyebut kontribusinya yang "kebetulan" ada di sana, atau malah melontarkan komentar yang sedikit meremehkan pencapaian orang lain.

4. Selalu setuju dengan atasan

Yes man memang beda tipis dengan pick me, tapi karyawan pikmi punya motivasi yang lebih dalam: mereka setuju bukan karena memang sepemikiran, melainkan karena takut kehilangan posisi di mata atasan. Mereka nggak berani punya pendapat sendiri kalau itu artinya harus berseberangan dengan orang yang mereka anggap bisa "memilih" mereka.

5. Suka menjadi martir

"Nggak apa-apa deh, aku yang ngerjain semuanya" kalimat ini keluar bukan dari keikhlasan, tapi dari harapan agar orang lain terutama atasan melihat betapa berkorbannya mereka. Karyawan pick me sering menempatkan diri sebagai pahlawan yang tersiksa, dengan harapan mendapat simpati dan pengakuan.

6. Butuh validasi terus-menerus

Setelah mengerjakan sesuatu, mereka nggak bisa tenang sampai ada yang memuji atau mengakuinya. Kalau nggak dapat respons, mereka akan follow up berkali-kali atau menceritakan pekerjaan tersebut ke banyak orang sampai ada yang bereaksi.

Kenapa Ada Karyawan yang Berperilaku Seperti Ini?

Sebelum langsung men-judge, penting untuk memahami bahwa perilaku pick me biasanya bukan muncul dari niat jahat. Ada beberapa latar belakang yang bisa menjelaskan kenapa seseorang jadi seperti ini:

  • Rasa tidak aman (insecurity). Orang yang nggak yakin dengan kemampuannya sendiri cenderung mencari pengakuan eksternal sebagai pengganti kepercayaan diri yang kurang. Mereka butuh orang lain untuk meyakinkan bahwa mereka cukup baik.
  • Pengalaman masa lalu. Bisa jadi mereka pernah bekerja di lingkungan yang sangat kompetitif, di mana satu-satunya cara bertahan adalah dengan "jual diri" ke atasan. Pola itu terbawa ke tempat kerja baru.
  • Budaya kantor yang tidak sehat. Kalau lingkungan kerja memang mendorong persaingan tidak sehat dan hanya menghargai yang paling terlihat bukan yang paling berkontribusi maka perilaku pick me bisa menjadi "strategi bertahan" yang masuk akal secara situasional.
  • Kebutuhan akan koneksi. Beberapa orang memang secara natural sangat membutuhkan rasa diterima dan diakui. Kalau kebutuhan ini nggak terpenuhi dengan cara yang sehat, bisa muncul dalam bentuk perilaku pick me.

Dampaknya ke Lingkungan Kerja

Karyawan pick me bisa jadi gangguan nyata buat dinamika tim, terutama kalau perilakunya sudah cukup intens.

Produktivitas tim bisa terganggu karena energi lebih banyak terbuang untuk "politik kantor" daripada pekerjaan itu sendiri. Kepercayaan antar rekan kerja juga bisa menurun, orang jadi was-was, takut hasil kerjanya diklaim atau diremehkan.

Yang paling berbahaya adalah kalau atasan tidak menyadari dinamika ini dan justru terpancing untuk benar-benar "memilih" si karyawan pick me berdasarkan visibilitas, bukan prestasi. Ini bisa memupuk ketidakadilan yang bikin anggota tim yang lain merasa frustrasi dan akhirnya resign.

Cara Menghadapi Karyawan Pick Me di Tempat Kerja

Kalau kamu merasa ada rekan kerja yang berperilaku seperti ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Jangan terpancing untuk ikut kompetisi yang nggak sehat. Tetap fokus pada kualitas kerja kamu sendiri. Pamer dan ekspos berlebihan mungkin memberi hasil jangka pendek, tapi konsistensi dan hasil nyata jauh lebih berbicara dalam jangka panjang.
  • Dokumentasikan kontribusimu. Pastikan atasan tahu apa yang sudah kamu kerjakan tapi dengan cara yang profesional. Update progress secara berkala lewat laporan atau meeting, bukan dengan pamer di setiap kesempatan.
  • Tetap bersikap kolaboratif. Karyawan pick me sering terjebak dalam pola pikir zero-sum kalau orang lain menang, mereka kalah. Kamu bisa membangun reputasi yang lebih solid dengan menjadi orang yang genuinely membantu tim.
  • Bicara ke atasan kalau sudah mengganggu. Kalau perilaku rekan kerjamu sudah sampai pada titik merugikan, misalnya mengklaim hasil kerja orang lain atau aktif merusak reputasi kolega,  itu sudah masuk ranah yang perlu dibicarakan dengan HR atau atasan secara profesional.

Kalau Kamu Merasa Kamu Sendiri yang Berperilaku Seperti Ini?

Ini bagian yang lebih penting dan butuh kejujuran. Nggak ada salahnya introspeksi apakah motivasi di balik tindakanmu di kantor lebih banyak didorong oleh kebutuhan akan pengakuan daripada semangat berkontribusi yang tulus?

Kalau iya, cobalah mulai membangun internal validation kepuasan yang datang dari dalam diri sendiri atas pekerjaan yang sudah dilakukan dengan baik, terlepas dari apakah orang lain memujinya atau tidak. Ini lebih sustainable dan jauh lebih menyehatkan secara mental.

Berbicara dengan konselor atau psikolog kerja juga bisa membantu kalau kamu merasa pola ini sulit diubah sendiri.

Kesimpulan

Karyawan pick me atau pikmi adalah orang yang terus-menerus mencari validasi dan perhatian di tempat kerja biasanya dari atasan dengan cara yang seringkali justru merugikan rekan-rekan di sekitarnya. Apa itu karyawan pick me / pikmi sebenarnya bukan soal orang jahat, melainkan soal pola perilaku yang perlu disadari dan diatasi, baik oleh individu yang bersangkutan maupun oleh lingkungan kerja secara keseluruhan.

Dunia kerja yang sehat adalah yang menghargai kontribusi nyata, bukan sekadar penampilan. Dan kamu sebagai pencari kerja maupun karyawan berhak berada di lingkungan seperti itu.

Punya pengalaman kerja dengan karyawan tipe pick me? Atau justru kamu sedang berjuang keluar dari pola ini? Bagikan di kolom komentar kamu nggak sendirian.

Posting Komentar